Jumat, 14 Januari 2011

laporan horti sawi

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sawi adalah sayuran terpenting dalam spesies ini. Tanaman ini dikenal sebagai petsai (bahasa Mandarin, yang berarti sayuran putih), dan di AS dikenal sebagai rapa atau kubis rapa. Sayuran ini sangat penting di Cina dan Korea, dan belakangan ini hanya kalah penting oleh Radish dan kubis di Jepang. Sawi putih diyakini berasal dari Cina dan mungkin berevolusi melalui persilangan alami dengan Pakchoi yang tidak membentuk kepala dan atau turnip, yang keduanya telah ditanam selama lebih dari 1600 tahun (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Sawi berbeda dengan petsai. Petsai adalah tanaman dataran tinggi sementara sawi bisa juga ditanam pada dataran rendah. Batang sawi ramping dan lebih hijau sedangkan petsai gemuk dan berkelompok dengan daun putih kehijauan. Ciri sawi yang khas ialah berdaun lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Sawi yang banyak ditanam di Indonesia sebenarnya dikenal juga dengan nama caisim (Prabawa, 2007).
Sawi (Brassica juncea) sudah lama di kenal di banyak Negara. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daratan Asia Tengah dan menyebar ke benua Eropa melalui Yunani. Bagaimana sawi masuk ke Indonesia tidak diketahui pasti, tetapi saat ini sawi sudah merupakan sayuran yang sangat di kenal di berbagai golongan masyarakat Indonesia (Widiastuti, 2005).
Pupuk urea adalah pupuk buatan senyawa kimia organik dari CO (NH2)2, pupuk padat berbentuk butiran bulat kecil (diameter lebih kurang 1 mm). pupuk ini mempunyai kadar N 45 % - 46 %. Urea larut sempurna di dalam air dan tidak mengasamkan tanah (Damanik dkk, 2010).
Bentuk sawi (Brassica juncea) meliputi pembentuk kepala, ukuran besar, kecil, daun keriting, tangkai daun besar, tangkai daun hijau, akar, batang besar, tajuk lunak dan daftar nama lain yang hamper tak terhingga. Karakteristik ini telah diidentifikasi melalui subdisi sebagai varietas botanis. Tanaman ini banyak di tanam dan dihasilkan dalam volume besar (Rubazky dan Yamaguchi, 1998).
Sawi merupakan tanaman semusim, berdaun lonjong halus, tidak memiliki bulu – bulu dan tidak berkrop. Tanaman ini sudah dikenal oleh masyarakat sebagai sayuran daun (Joko dan Wibisono, 2007).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui tanggap pertumbuhan tanaman sawi (Brassica juncea L.) Varietas Tosakan Terhadap Pemberian berbagai Dosis Pupuk Urea dan TSP.
Hipotesis Percobaan
-                Diduga ada pengaruh pemberian dosis pupuk Urea  pada pertumbuhan              sawi (Brassica juncea L.)                     
-                Diduga ada pengaruh pemberian dosis pupuk TSP pada pertumbuhan              sawi (Brassica juncea L).
-                Diduga ada interaksi pemberian dosis pupuk Urea dan TSP pada pertumbuhan sawi (Brassica juncea L.)


Kegunaan Percobaan
-                Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultra Fakultas Pertanian, Universitas Sumatra Utara, Medan.
-                Sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.



















TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Steenis (1975) tanaman sawi putih dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom   : Plantae
Divisio       : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas         : Dicotyledonae
Ordo          : Brassicales
Famili       : Brassicaceae                                                    
Genus       : Brassica
Species     : Brassica juncea L.
            Tanaman sawi umumnya akar tunggang awalnya ramping, tumbuh menjadi kentara, tetapi jika dipindah tanamkan, menjadi tidak terlihat dan menghasilkan sistem perakaran yang melebar luas dan percabangan yanga sangat halus, sebagian besar perkembangan akar terjadi pada kedalaman 30 cm dari permukaan tanah (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).
            Tanaman sawi memiliki batang sejati pendek dan tegap terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Batang sejati bersifat tidak keras dan berwarna kehijauan atau keputih – putihan                                                         (www.pustaka-deptan.go.id/agritek/lip50073.pdf, 2010).
Daun tanaman sawi berbentuk bulat atau bulat panjang (lonjong) ada yang lebar dan sempit, ada yang berkerut – kerut (keriting), tidak berbulu, berwarna hijau tua, hijau keputih – putihan sampai hijau tua                                       (www.organikpro.com/files/Sawi-Panduan_Menanam.pdf, 2010).
Syarat Tumbuh
Iklim
Sawi dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah. Akan tetapi, umumnya sawi diusahakan orang di dataran rendah yaitu pekarangan, ladang atau di sawah, jarang diuasahakan di daerah pegunungan (Zulkarnain, 2000).
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan  (www.sinartani.pdf, 2010).
Sawi merupakan tanaman tahan hujan. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secar teratur. Tanamn sawi lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang (www.must-anast.pdf, 2010).
Sawi termasuk tanaman sayuran yang tahan terhadap hujan. Sehingga ia dapat ditanam di sepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau disediakan air yang cukup untuk penyiraman (Ashari, 1995).
Tanah
Tanah yang cocok pada pertanaman sawi adalah latosol, andosol, dan regosol. Derajat keasaman tanah (PH) yang cocok untuk tanaman sawi adalah 6-7 dan kandungan air tanah yang cukup (wikipedia.org/wiki/Commons:Category:Law_related_Pdf, 2010).
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7 (www.fas.org/sgp/crs/natsec/RS22122.pdf, 2010).
Persyaratan tanah untuk tanaman sawi adalah subur gembur dan banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang paling baik yaitu lempung berpasir atau lempung berdebu (Damanik, dkk., 2010).
Pupuk Urea
Urea termasuk pupuk yang higroskopis (mudah menarik uap air). Pada kelembaban 73% ia sudah menarik uap air dari udara. Oleh karena itu ia mudah larut dalam air dan mudah diserap oleh tanaman. Keuntungan dari urea ini adalah kadar hara N-nya tinggi. Tapi banyak juga kejelekannya. Kalau ia diberikan ke tanah misalnya, maka ia mudah berubah menjadi amoniak dan karbondioksida (Buckman and Brady, 1969).
Sifat urea lain yang tidak menguntungkan ialah sangat higrokopis dan mulai menarik air dari udara pada kelembaban nisbi 73%. Urea tidak bersifat menginosir dalam larutan sehingga mudah mengalami pencucian, karena tidak cepat terjerap oleh koloid tanah. Untuk dapat diserap oleh akar tanama urea harus mengalami proses ammonifikasi dan nitrifikasi lebih dahulu, maka jika dibandingkan dengan pupuk ZA, bekerjanya pupuk urea lambat                              (Sanchez, 1976).
Pupuk urea adalah pupuk buatan senyawa kimia organik dari CO(NH2)2, pupuk padat berbentuk butiran bulat kecil (diameter  lebih kurang 1 mm). Pupuk ini mempunyai kadar N 45%-46%. Urea larut sempurna di dalam air, dan tidak mengasamkan tanah (Damanik, dkk., 2010).
Cepat dan lambatnya perubahan bentuk amide dari urea kebentuk senyawa N yang dapat diserap oleh tanaman sangat bergantung pada beberapa faktor ialah keadaan populasi, aktivitas mikroorganisme, kadar air dari tanah, temperatur tanah dan banyaknya pupuk urea yang diberikan (Cooke, 1982).
            Kehilangan N akan meningkat dengan makin berkurangnya air tanah. Hal yang demikian tidak akan terjadi pada urea atau pupuk N-amonium lainnya bila diberikan pada lapisan reduksi. Pada lapisan reduksi NH4 lebih stabil                     (Barber, 1984).
            Gejala kekurangan unsur hara ini dapat terlihat dimulai dari daunnya warnanya yang hijau agak kekuning – kuningan selanjutnya berubah menjadi kuning lengkap. Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan. Pada tanaman dewasa pertumbuhan terhambat akan berpengaruh terhadap pembuahan yang dalam hal ini perkembangan buah tidak sempurna umumnya kecil – kecil dan cepat matang (Sutedjo, 2002).


Pupuk TSP
            Pupuk TSP dikenal pula dengan sebutan Enkel-super-fosfat, disingkat ES. Bentukny berupa bubuk berwarna abu-abu dan mengandung zat fosfat (P) 14 -20%. Pupuk ini dibuat dari fosfat alam dan asam belerang                                           (Buckman and Brady, 1969).
Rumus kimia jenis pupuk ini adalah Ca(H2PO4). Sifat umum pupuk Tripel superfosfat (TSP) sama dengan pupk DS. Kadar P2O5 pupuk ini sekitar 44%-46% walaupun secara teoritis dappat mencapai 56%. Pembuatan pupuk TSP menggunakan sistem wet process. Dalam proses in, batuan alam (rock posfat) flour apatit diasamkan dengan asam fosfat hasil proses sebelumnya                              (Adams, 1971).
            Superfosfat triple (TSP) dibuat melalaui pengasaman batuan fosfat dengan H3PO4 dengan peralatan dan proses yang sama dengan pupuk superfoosfat biasa. Pupuk ini mempunyai rumus kimia yang sama dengan pupuk superfosfat rangkap Ca(H2PO4)2, pupuk padat yang berbentuk butiran kasar, berwarna abu-abu dan termasuk pupuk yang mudah larut di dalam air (Sanchez, 1976).
Pupuk TSP ini mudah larut dalam air dan agak sedikit higroskopis. Pupuk ini cocok dicampuk dengan ZA, karena amoniaknya akan terikat. Cuma kalau di campur sering mengeras sehingga perlu dihaluskan dulu sebelum dipakai. Sewaktu memebrikan puppuk ini harus dibenamkan agar mencapai perakaran tanaman. Kalau tidak, akan dihanyutkan oleh air (Cooke, 1982).
            Sekarang pupuk TSP ini tidak lagi diproduksi di Indonesia dan sebagai gantinya di produksi pupuk superfosfat lain yang kadar P2O5 nya lebih rendah yakni 36% dan di kenal dengan nama SP 6 atau pupuk superfosfat 36. Sifat fisik dan kimiawi dari SP 36 tidak jauh berbeda dengan pupuk TSP (Vlamis, 1953).
            Defisiensi unsur P akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan sistem perakaran, daun, batang seperti misalnya pada tanaman serelia, daun – daunnya berwarna hijau tua atau keabu – abuan, mengkilap sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah selanjutnya mati. Tangkai daunnya kelihatan lancip –lancip. Pembentukan buah jelek merugikan hasil biji (Harianto, 1983).













BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Waktu Percobaan
            Percobaan ini dilakukan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 25 m dpl. Percobaan ini dilakukan pada bulan September sampai bulan November 2010.
Bahan dan Alat Percobaan
            Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih sawi varietas Tosakan sebagai objek percobaan, pupuk urea 46% N dan pupuk TSP 46% P2O5 sebagai pupuk dalam percobaan, kompos sebagai media tanam, pacak dan plot sebagai penanda tanaman, tali plastic sebagai pembatas lahan, dan air sebagai media penyiraman.
            Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampurkan media tanam, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, gembor untuk menyiram tanaman,  buku data yang digunakan sebagai tempat penulisan data.





Metode Percobaan
            Metode percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu:
Faktor 1           : Pupuk urea (N) dengan 4 taraf
            N0        : 0 gr
            N1       : 200 gr
            N2       :  400 gr
            N3        : 600 gr
Faktor 2           : Pupuk tripel superfosat (TSP)  dengan 4 taraf
            P0         : 0 gr
                P1         : 200 gr
                P2         : 400 gr
            P3        : 600 gr
Maka akan didapat 16 kombinasi perlakuan, yaitu:
N0P0                                   N1P0                                            N2P0                              N3P0     
N0P1                                   N1P1                                            N2P1                              N3P1
N0P2                                               N1P2                                            N2P2                                      N3P2
N0P3                                               N1P3                                            N2P3                                      N3P3
               Data hasil praktikum dianalisis sidik ragam berdasarkan model linear sebagai berikut  :
               Yijk = µ + ρi + αj + βk + (α β )jk + Ζijk
Dimana :
 Yijk        : Hasil Pengamatan  dari blok ke-I dengan perlakuan pemberian urea dan TSP taraf ke-k,
 µ            : Nilai tengah sebenarnya
 ρi           : Efek Blok ke-i
 αj               : Efek Perlakuan pemberian urea taraf ke-j
 βk           : Efek perlakuan pemberian TSP taraf ke-k
 (α β )jk    : Efek interaksi  perlakuan pemberian TSP taraf ke-j dan perlakuan pemberian urea taraf ke-k
 Ζijk         : Efek galat yang mendapat perlakuan pemberian TSP  taraf ke-I dan perlakuan dosis  taraf ke-j dan interaksi perlakuan pemberian urea taraf ke-k.











PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
               Diukur lahan seluas 2m x 2m dan dibuat parit. Digemburkan tanah dan dibersihkan lahan dari gulma dengan menggunakan cangkul. Lalu dicampurkan ke dalam tanah.
Persemaian
               Persemaian dilakukan 3 minggu sebelum dilakukan penanaman dengan cara menyebar benih. Naungan dibuat dalam persemaian untuk mengurangi intensitas cahaya matahari dan curah hujan yang masuk langsung ke persemaian.
Aplikasi Pupuk Dasar
               Pupuk yang digunakan dalam percobaan ini adalah pupuk urea dan pupuk TSP. Pupuk ini diberikan dengan cara di tugal di sekitar akar tanaman sawi.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
               Penyiraman dilakukan setiap hari selanjutnya dikurangi tergantung keadaan cuaca.
Penyiangan
               Penyiangan dilakukan dengan tangan pada saat gulma tumbuh.
Penyulaman
               Penyulaman dilakukan dengan cara menyisip bagian tanaman yang tidak tumbuh.
Pengendalian Hama dan Penyakit
               Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan pestisida dengan cara disemprot pada bagian tanaman yang terserang hama dan penyakit.
Panen
            Pemanenan dilakukan pada saat tanaman telah mengalami pembungaan.







HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

1. Tinggi Tanaman (cm)
Data rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
            Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST  dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 serta 4 MST.
            Data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman 2 MST










Dari data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap tinggi tanaman  diperoleh bahwa tinggi tanaman tertinggi yaitu pada perlakuan N1P3 sebesar 31,63 cm dan yang terendah adalah N2P3 sebesar 19,64 cm.
           


            Dari data tabel 1 diperoleh  grafik  seperti terlihat dibawah ini.
Grafik 1. Grafik Tinggi Tanaman (cm) 2 MST terhadap Nitrogen.
            Dari grafik 1 diperoleh bahwa rataan tinggi tanaman terhadap nitrogen yang tertinggi adalah pada perlakuan N1 sebesar 85 cm sedangkan yang terendah adalah N2 sebesar 69 cm.
Grafik 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada  2 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.






Dari grafik 2 diperoleh rataan tinggi tanaman 2 MST terhadap Nitrogen dan Phospor yang tertinggi adalah N1P3 sebesar 31,63 sedangkan yang terendah adalah N2P3 sebesar 19,64 cm.



Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman 3 MST





          Dari data pengaruh pemberian pupuk urea dan  TSP terhadap tinggi tanaman  diperoleh bahwa rataan tinggi tanaman tertinggi  pada 3 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 36,85 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 22,34 cm. 
Grafik 3. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada  3 MST Terhadap Nitrogen





Dari grafik 3 yang diperoleh adalah rataan tinggi tanaman 3 MST terhadap Nitrogen yang tertinggi adalah N1 sebesar 100 cm sedangkan yang terendah adalah N2  sebesar 89 cm.





Grafik 4. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada  3 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.



          Dari data pengaruh pemberian pupuk urea dan  TSP terhadap tinggi tanaman  diperoleh bahwa rataan tinggi tanaman tertinggi  pada 3 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 36,85 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 22,34 cm. 
Tabel 3. Rataan Tinggi Tanaman 4 MST





Dari tabel 3 rataan tinggi tanaman 4 MST yang tertinggi adalah N1P0 sebesar 36,85 sedangkan yang terendah adalah N2P0 sebesar 43,95.



Grafik 5. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada  4 MST Terhadap Nitrogen






Dari grafik 5 yang diperoleh adalah rataan tinggi tanaman 4 MST terhadap Nitrogen yang tertinggi adalah N1 sebesar 110 cm sedangkan yang terendah adalah N2  sebesar 95 cm.
Grafik 6. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada  4 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.







Dari grafik 6 yang diperoleh adalah rataan tinggi tanaman 4 MST terhadap Nitrogen dan Pospor yang tertinggi adalah N1P0 sebesar 36,85 cm sedangkan yang terendah adalah N2P0  sebesar 24,94 cm.
2. Jumlah Daun (helai)
Data rataan jumlah daun dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
            Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP  belum berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
           

Data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.
Tabel 4. Rataan Jumlah Daun 2 MST.





Dari data rataan jumlah daun 2 MST yang tertinggi adalah N3P2 sebesar 7,50 helai sedangkan yang terendah adalah N0P2 sebesar 4,93 helai.
Tabel 5. Rataan Jumlah Daun 3 MST.





Dari data rataan jumlah daun 3 MST yang tertinggi adalah N3P2 sebesar 9,07  helai sedangkan yang terendah adalah N0P2 sebesar 5,67  helai.
Tabel 6. Rataan Jumlah Daun 4 MST.





Dari data pengaruh pemberian pupuk urea dan  TSP terhadap jumlah daun  diperoleh bahwa  rata-rata tinggi tanaman tertinggi  pada 4 MST yang tertinggi adalah N0P0 sebesar 10,50 helai sedangkan yang terendah adalah N2P3 sebesar 7,80  helai.
3. Bobot Biomassa Per Tanaman Sampel (g)
Data bobot biomassa per sampel  dapat dilihat pada lampiran pengamatan  produksi per sampel.
Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
            Data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini.
                 



                  Tabel 7. Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel.
Dari data rataan bobot biomassa yang tertinggi adalah N3P1 sebesar 269,67 gram sedangkan yang terendah adalah N3P2 sebesar83,00 gram.
Grafik 7. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap Phospor.







Dari grafik 7 rataan bobot biomassa terhadap pospor yang tertinggi adalah P1  699 gram sedangkan yang terendah adalah P2 sebesar 500  gram.




Grafik 8. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap  Nitrogen dan Phospor.







Dari data rataan bobot biomassa terhadap Nitrogen dan pospor yang tertinggi adalah N3P1 sebesar 269,67 gram sedangkan yang terendah adalah N3P2 sebesar 83,00 gram.
4. Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel (g)
Data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan  produksi per sampel.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
            Data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap bobot TSP dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini.
                 


                  Tabel 8. Rataan Bobot Segar Jual (gr)




Dari data rataan bobot segar jual yang tertinggi adalah N3P1 sebesar 217,33 gram sedangkan yang terendah adalah N3P2 sebesar 70,33 gram.
Grafik 8. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Phospor.
Dari grafik 8 rataan bobot biomassa terhadap pospor yang tertinggi adalah P1  599 gram sedangkan yang terendah adalah P3 sebesar 400  gram.
Grafik 9. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.





Dari data rataan bobot segar jual yang tertinggi adalah N3P1 sebesar 217,33 gram sedangkan yang terendah adalah N3P2 sebesar 70,33 gram.
5. Indeks Panen
Data indeks panen dapat dilihat pada lampiran pengamatan  indeks panen.
Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen.
            Data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap indeks panen dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini.
Tabel 9. Rataan Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap indeks panen

                                   


Dari data rataan indeks panen yang tertinggi adalah N0P1 sebesar 0,91 sedangkan yang terendah adalah N3P0 sebesar 0,47.
Grafik 10. Rataan indeks panen (gr) Phospor.







Dari grafik 10 rataan indeks panen terhadap pospor yang tertinggi adalah P0 2,54 sedangkan yang terendah adalah P3 sebesar 2,24.
Grafik11. Rataan indeks panen (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.





           
            Dari grafik 12 indeks panen terhadap terhadap Nitrogen dan Pospor yang tertinggi adalah N0P1 sebesar 0,91 sedangkan yang terendah adalah N3P0 sebesar 0,47.








Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk urea berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST,  sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 dan 4 MST dan nyata terhadap produksi per sampel. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi  pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P3 sebesar 24,83 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 13,06 cm. Hal ini  pupuk kandang yang digunakan sudah mengandung beberapa unsur seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium yang baik untuk pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat bertumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa kandungan utama dengan kadar tertinggi kompos adalah bahan organik yang mujarab dan terkenal manjur untuk memperbaiki kondisi tanah. Unsur lain dalam kompos yang variasinya cukup banyak adalah nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta tinggi tanaman 2 MST, 3 MST dan 4 MST. Dapat dilihat data rataan jumlah daun  tertinggi  pada 4 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 9,17 dan terendah pada perlakuan N3P3  sebesar 5,93. Hal ini mungkin dikarenakan dosis pupuk yang digunakan belum tepat, pemberiannya tidak merata dan adanya faktor yang mendukung pertumbuhan seperti curah hujan dan sinar matahari. Hal ini sesuai dengan pendapat Damanik, dkk (2010) yang mengemukakan bahwa pemupukan dilakukan untuk mencukupi atau menambah zat-zat makanan yang berguna bagi tanaman, dalam pemberian pupuk harus diperhatikan dahulu dosis penggunaannya sebab bila dosis yang diberikan salah maka daun akan terbakar, pemberiannya harus merata dan kepekatannya harus diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk urea dan TSP Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data produksi persampel diperoleh bahwa rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 85.67 g dan terendah pada perlakuan N0P3  yaitu sebesar 33,20 g. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian pupuk fosfor dan pupuk Nitrogen yang  baik untuk bisa merangsang pertumbuh akar sehingga dapat menghasilkan bobot biomassa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Harianto (1983) yang menyatakan bahwa pupuk majemuk dengan analisis 15.5.29 atau 24.6.12 memiliki kandungan nitrogen cukup untuk kebutuhan tanaman dan kandungan fosfornya cukup untuk merangsang pertumbuhan akar yang baik, tetapi tidak cukup untuk meningkatkan kandungan P  di dalam tanah.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel bahwa Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 70.67 g dan terendah pada perlakuan N1P3 yaitu sebesar 23,93 g.  Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian pupuk fosfor dan pupuk Nitrogen yang  baik untuk bisa merangsang pertumbuh akar sehingga dapat menghasilkan bobot biomassa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Harianto (1983) yang menyatakan bahwa pupuk majemuk dengan analisis 15.5.29 atau 24.6.12 memiliki kandungan nitrogen cukup untuk kebutuhan tanaman dan kandungan fosfornya cukup untuk merangsang pertumbuhan akar yang baik, tetapi tidak cukup untuk meningkatkan kandungan P  di dalam tanah.
            Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen. Dari data indeks panen bahwa indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P3 sebesar 0,93 dan terendah pada perlakuan N1P0 yaitu sebesar 0,59. Dari hal ini dapat dilihat bahwa indeks panennya tidak seimbang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pemberian pupuk yang mengandung Kalium kurang banyak, sehingga tanaman tidak terlihat segar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa kandungan kalium yang tinggi membuat tanaman menjadi lebih segar, lebih tahan terhadap penyakit dan tahan terhadap kekeringan.





















KESIMPULAN DAN SARAN
1.            Kesimpulan Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST  dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 serta 4 MST dilihat dari rataan tinggi tanaman 4 MST yang tertinggi adalah N1P0 sebesar 36,85 sedangkan yang terendah adalah N2P0 sebesar 43,95.
2.            Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP  belum berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST dilihat dari rata-rata tinggi tanaman tertinggi  pada 4 MST yang tertinggi adalah N0P0 sebesar 10,50 helai sedangkan yang terendah adalah N2P3 sebesar 7,80  helai.
3.            Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dilihat dari rataan bobot biomassa terhadap Nitrogen dan pospor yang tertinggi adalah N3P1 sebesar 269,67 gram sedangkan yang terendah adalah N3P2 sebesar 83,00 gram.
4.            Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dilihat dari rataan bobot segar jual yang tertinggi adalah N3P1 sebesar 217,33 gram sedangkan yang terendah adalah N3P2 sebesar 70,33 gram.
5.            Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen dilihat dari indeks panen terhadap terhadap Nitrogen dan Pospor yang tertinggi adalah N0P1 sebesar 0,91 sedangkan yang terendah adalah N3P0 sebesar 0,47.

Saran                                                                                                            

Sebaiknya dalam melakukan percobaan harus diberikan dosis penggunaan pupuk yang tepat  dan  dan kombinasi perlakuan yang tepat.








DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press, Jakarta.
Adams, F. 1971. Ionic Concentration and Activities inSoil Solutions, Soil Science Soociety of America.
Barber, S. 1984. Soil Nutrienth Bio Availability. Publihed Stimultaneously in Canada.
Buckman and Brady. 1969. The Nature and Properties of Soil The MacMillan Comp, New York.
Cooke, G. 1982. Fertilizing for Maximum Yield. Granada Publishing Ltd, London.
Damanik, Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin, dan H. Hanum. 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press, Medan.
Harianto. 1983. Soil Fertility and Fertilizers. IPB Press, Bandung.
Joko, S dan L. Wibisono. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman Sayuran. Citra Aji Parama, Yogyakarta.
Prabawa, W. 2007. Pertanian Tips Menanam Sayur. Karya Mandiri Pratama, Jakarta.
Rubatzky, VE., dan Yamaguchi, M. 1997. Sayuran dunia 2. Penerbit ITB Bandung.
Sanchez, P. 1976. Properties and Management of Soils in The Topics. John Willey and Sons, New York.
Steenis. 1975. Flora. Pradyparamitha, Yogyakarta.
Sutedjo, M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.
Vlamis, J. 1953. Acid Soil in Fertility as Related to Soil Solution and Soil Phase Effect. Soil.
Widiastuti, S. 2007. Bertanam Tanpa Tanah. Musi Perkasa Utama, Jakarta.
wikipedia.org/wiki/Commons:Category:Law_related_Pdf. 2010. Sawi. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2010.
www.fas.org/sgp/crs/natsec/RS22122.pdf. 2010. Sawi. Diakses pada tanggal 17 oktober 2010.
www.must-anast.pdf. 2010. Tanaman Sawi. Diakses pada tanggal 17 oktober 2010.
www.organikpro.com/files/Sawi-Panduan_Menanam.pdf. 2010. Panduan Menanam Sawi. Diakses pada tanggal 17 oktober 2010.
www.pustaka-deptan.go.id/agritek/lip50073.pdf, 2010. budi daya sawi. Diakses pada tanggal 17 oktober 2010.
www.sinartani.pdf. 2010. Budi daya sawi putih. Diakses pada tanggal 17 oktober 2010.
Zulkarnain, H. 2000. Dasar – Dasar Hortikultura. Bumi Aksara, Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar